07 April 2014

KEDEKATAN PENYULUH DENGAN PELAKU UTAMA DAN PELAKU USAHA PERIKANAN




Oleh : Mahmud Efendi, A.Md (Penyuluh Perikanan Temanggung – Jawa Tengah)


Didalam Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No : KEP. 44/MEN/2002 Tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Penyuluhan Perikanan dijelaskan bahwa tujuan Penyuluhan Perikanan adalah meningkatnya pengetahuan, keterampilan, sikap, dan motivasi masyarakat, khususnya nelayan, pembudidaya, pengolah ikan dan keluarganya, terutama dalam rangka meningkatkan pendapatan dan kesejahteraannya. Dijelaskan juga bahwa Penyuluhan Perikanan adalah pendidikan nonformal yang ditujukan kepada masyarakat khususnya nelayan, pembudidaya dan pengolah ikan serta keluarganya untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan motivasi dalam bidang perikanan.
Pedoman Umum  Penyelenggaraan Penyuluhan Perikanan yang dikeluarkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Pertama , Bapak Rokhmin Dahuri,  juga menjelaskan metoda pendekatan dalam penyuluhan perikanan. Berikut akan kami jelaskan ini semua dengan bahasa yang mudah dimengerti.
Pendekatan Persuasif artinya bahwa penyuluh perikanan dalam melaksanakan tugasnya harus mampu meyakinkan khalayak yang disuluh, sehingga mereka merasa tertarik terhadap hal-hal yang disampaikan.  Secara otomatis apabila kita menginginkan para pelaku utama yang akan disuluh yakin terhadap “sesuatu” yang akan kita sampaikan dan tertarik untuk melakukannya maka kedekatan kita secara emosional sangatlah diperlukan. Sehingga dengan kedekatan ini diharapakan mereka bisa melakukan “advice” kita secara sukarela tanpa merasa terpaksa, dengan sepenuh hati dan tidak setengah hati serta dengan “kesadaran” tanpa merasa digurui.
Pendekatan Personal
Unsur  yang juga tidak kalah penting dalam melaksanakan penyuluhan perikanan adalah unsur Edukatif. Edukatif disini maksudnya adalah penyuluh perikanan harus bersikap dan berperilaku sebagai pendidik yang dengan penuh kesabaran dan ketekunan membimbing masyarakat. Kata kunci dari aspek edukatif ini adalah sabar dan tekun dalam mendidik para pelaku utama dan pelaku usaha perikanan. Dimana kesabaran para penyuluh sangatlah dibutuhkan dalam mendidik pelaku utama dan pelaku usaha perikanan. Karena tidak jarang kita temui dilapangan masyarakat yang kita “didik” ini terkadang membuat kita “emosi”. Bukan hanya itu, masih sering ditemukan ketika kita memberikan masukan secara langsung,  mereka mengatakan akan segera melakukan, walau kenyataannya dilapangan mereka tidak jua melaksanakan. Kondisi ini sering kita alami, akan tetapi sebagai penyuluh janganlah kita hanya menyalahkan obyek penyuluhan saja. Akan tetapi mestinya kita juga harus “introspeksi”, mungkin sebagai “Guru Informal” masyarakat, kita belum “acceptable” walau mungkin kita sudah “capable”. Mungkin selama ini kita cenderung hanya menggurui dan merasa menjadi “Komandan” ketika kita menyampaikan masukan. Jadi kesabaran untuk senantiasa memberikan masukan yang bermanfaat haruslah terus menerus kita lakukan dibarengi dengan senantiasa melakukan “Pendekatan Personal”.
Penyuluhan Kelompok Langsung Ke Lapangan
Selain itu ketekunan dalam memberikan saran dan masukan terhadap obyek yang akan disuluh juga tidak kalah penting. Walaupun kita sudah mempunyai kesabaran dalam melakukannya akan tetapi ketika kita tidak secara rutin dan bersungguh-sungguh dalam memberikan masukkan maka hasilnya kurang maksimal. Pasalnya “rutinitas” penyuluh dalam memberikan masukan ini sangatlah diperlukan dalam “transfer of technology” terkini seputar perikanan maupun hal-hal lainnya.
Berikutnya adalah komunikatif, artinya bahwa penyuluh perikanan harus mampu berkomunikasi dan menciptakan iklim serta suasana sedemikian rupa sehingga tercipta suatu pembicaraan atau komunikasi yang bersifat akrab, terbuka, dan timbal balik.  Hal ini juga menjelaskan bahwa kedekatan penyuluh terhadap pelaku perikanan merupakan suatu keniscayaan. Karena bagaimana mungkin tercipta suatu pembicaraan atau komunikasi yang bersifat akrab, terbuka dan menghasilkan perubahan prilaku apabila kita kurang “dekat” dengan mereka bahkan cenderung terasa “jauh”. Selain itu, harus juga disadari bahwa selaku penyuluh perikanan memang kita “dibayar  untuk  ngomong” kepada para pelaku utama dan pelaku usaha perikanan. Sebagai seorang penyuluh bukan hanya diam dan “tidak berkata seribu bahasa”. Karena bagaimana mungkin mereka bisa meningkatkan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan motivasi serta pendapatan dan kesejahteraannya apabila kita hanya diam saja. Disinilah letak pentingnya komunikasi dua arah, sehingga unsur “mendidik secara informal” ini bisa berjalan dengan lancar.
Akomodatif artinya bahwa dengan diajukannya permasalahan-permasalahan di bidang perikanan oleh masyarakat, penyuluh perikanan harus mampu mengakomodasikan, menampung, dan memberikan jalan pemecahannya dengan sikap dan bahasa yang mudah dimengerti dan dipahami oleh khalayak yang disuluh. Hal ini juga menuntut penyuluh harus bisa “menjadi pendengar yang baik” bukan hanya mau didengar. Memang kita harus mampu menampung segala permasalahan yang mereka sampaikan, walau terkadang yang harus kita dengar tidak hanya permasalahan teknis perikanan belaka. Penyuluh harus mampu menjadi teman “curhat” mulai dari masalah “dapur sampai “kasur” dan “sumur”. Selaku penyuluh  semestinya kita hadapi semua ini dengan senyuman dan justru harus kita syukuri. Karena apabila mereka mau menyampaikan semua permasalahan yang dihadapi mulai dari masalah teknis budidaya sampai masalah pribadi dan keluarga, menunjukkan bahwa ada kedekatan pribadi antara kita dan mereka. Pasalnya tidak semua orang mau dan berani menyampaikan segala permasalahan yang dihadapinya. Justru apabila kita selaku penyuluh bisa memberikan alternatif pemecahannya yang tepat terhadap permasalahan yang mereka hadapi, maka kedepannya kita akan lebih mudah “masuk” pada mereka. Sehingga para pelaku utama dan pelaku usaha perikanan akan menjadikan kita sebagai “dokter pribadi” mereka ketika ada “penyakit” yang dihadapi. Pada akhirnya kedekatan pribadi ini akan lebih mempermudah tugas kita sebagai penyuluh untuk merubah PSK (Perilaku, Sikap dan Keterampilan) mereka.
Pendekatan KeKelompok
Fasilitatif artinya bahwa penyuluh perikanan harus mampu memanfaatkan jejaring kerja penyuluhan perikanan untuk menghubungkan antara khalayak yang disuluh dengan pihak lain seperti sumber teknologi, sumber permodalan, sumber informasi, akses pasar, dan lain-lain. Kemampuan untuk bisa menciptakan networking ini sangat dibutuhkan ketika kita terjun ke lapangan dan bertemu langsung dengan para pelaku utama perikanan. Karena belakangan ketika mereka mampu memproduksi hasil perikanan dengan tehnologi tinggi dan kontinyuitasnya sudah berjalan dengan baik akan tetapi mereka masih kesulitan untuk memasarkannya. Hal ini semestinya menjadi tantangan dan peluang bagi penyuluh untuk bisa menjadi penghubung antara pelaku utama dan “market” yang akan menyerap produk mereka. Sehingga kedepannya para pelaku utama tidak hanya mampu memproduksi dalam jumlah besar akan tetapi mereka juga mampu mengakses pasar.
Terlebih lagi ketika para obyek yang kita suluh kesulitan dalam mengakses modal, semestinya kita juga haus mampu menyelesaikan permasalahan ini. Karena apabila pasar sudah kita kuasai dan permintaannya semakin banyak, maka mau gak mau kebutuhan modal usaha pun akan semakin tinggi. Hal ini juga bisa menjadi salah satu peluang bagi Penyuluh untuk bisa menjadi Konsultan Keuangan Mitra Bank (KKMB). Dimana Keberadaan KKMB ini sebenarnya bukanlah hal baru bagi kita. Kiprahnya sebagai tenaga pendamping bagi pengusaha mikro, kecil dan menengah sudah cukup dikenal. Di beberapa kalangan, nama KKMB lebih dikenal dengan sebutan lain yang berbeda-beda sesuai dengan penugasan masing-masing. Jadi apabila kita mampu membantu para pelaku utama dan pelaku usaha perikanan dalam mengakses modal usaha dengan mudah, maka kita merupakan “guru yang mulia” bagi mereka. Terlebih lagi apabila kita bisa menjadikan mereka sebagai pengusaha  kecil dan menengah syukur bisa menjadi perusahan besar yang bisa mengekspor produknya. Maka apa yang kita lakukan ini akan mempunyai dua nilai investasi, yaitu investasi dunia dan investasi akhirat. Sehingga kedepannya kita bisa berharap agar khalayak yang kita suluh bisa sukses dunia akhirat, begitu juga kita harapkan para penyuluhnya bisa sukses dunia akhirat.