02 April 2019

MENGENAL BLACK SOLDIER FLIES (BSF) PAKAN ALTERNATIF IKAN DAN TERNAK SANG “TENTARA HITAM” PENGOLAH LIMBAH


Oleh : Mahmud Efendi, S.Tr.Pi. (Penyuluh Perikanan Disnakan Temanggung)

Anda Ingin Belajar Seputar Maggot BSF
Bisa Baca Buku Berikut
Cover Buku BSF

Jika ingin membaca e_book nya bisa melihat di link berikut :




Ikan Lele Mengkonsumsi BSF


Pendahuluan
Hampir disemua lini aktifitas kita sehari-hari banyak  menghasilkan limbah dan sampah.  Bahkan sampah dianggap menjadi suatu ancaman yang serius  bagi masyarakat bukan hanya berdampak buruk bagi kesehatan dan lingkungan sekitar, sampah dianggap akan mengurangi lahan produktif karena membutuhkan lahan yang tidak sedikit sebgai tempat pembuangan, penampungan dan pengolahannya. Karenanya dibutuhkan sebuah cara yang “out of the box” dalam penanganan dan pemanfaatan limbah rumah tangga yang dianggap kurang bermanfaat bagi masyarakat selama ini.
BSF di Kandang

Mengenal Black Soldier Flies/BSF
Belakangan mulai banyak dikembangbiakan Hermetia illucens  atau ada yang menyebutnya lalat-lalat tentara hitam (Black Soldier Flies/BSF)  untuk mengurai sampah rumah tangga dan sampah sisa pengolahan industri lainnya. Lalat asli kawasan Amerika Utara itu diklaim sanggup mengurangi 80 persen sampah rumah tangga dan limbah pengolahan pabrik lainnya. Hermetia illucens merupakan jenis serangga keluarga lalat yang jauh beda dengan lalat sampah (Musca domestika) pada umumnya dengan sifat yang tak dimiliki lalat lain. Masa dewasanya kurang dari delapan hari, yang ditujukan mencari pasangan dan bertelur. Pada Tahap Dewasa yang rata-rata hidup selama 7-14 hari BSF ini tidak makan. Lalat BSF dewasa bersayap ini tidak mempunyai bagian mulut sehingga hal ini yang menjadi alasan utama mengapa lalat-lalat itu tak dikaitkan dengan penularan penyakit kepada manusia sehingga aman untuk dikembangkan disekitar pemukiman masyarakat. Bahkan, larva atau maggot Hermetia illucens dapat membunuh dan menekan populasi bakteri jahat, misalnya salmonella dan coli, serta mampu mengolah limbah organik sangat cepat.
Maggot BSF
Maggot BSF juga mengandung protein dan lemak tinggi sehingga baik digunakan sebagai pakan unggas atau ikan. Sisa kotoran maggot juga bisa dijadikan pupuk organic/kompos. Secara fisik, lalat hitam ini  mempunyai bentuk tubuh lebih panjang dan ramping dibandingkan lalat umumnya. Tubuhnya mengilap, geraknya lambat. Jika dikembangbiakkan dikandang khusus dan jumlahnya mendominasi maka lalat lain, seperti lalat hijau dan lalat sampah, akan menyingkir. BSF ini relatif mudah dikembangbiakkan tidak membutuhkan perlakuan khusus. Dalam siklus hidupnya, lalat ini bisa bermigrasi secara mandiri saat bermetamorfosis dari fase maggot/larva ke prepupa. Siklus hidupnya relatif singkat, sekitar 40 hari. Fase metamorfosis terdiri atas fase telur selama 3 – 4 hari, maggot 18-21 hari, prepupa 14 hari, pupa 3 hari, dan lalat dewasa 3 hari. Lalat BSF  dewasa betina setelah 2-3 hari pasca kawin akan bertelur dan setelah bertelur akan mati, sedangkan yang jantannya akan mati setelah kawin.


Black Soldier Flies/BSF Sang Pengolah Sampah
Dalam proses pengelolaan sampah dengan lalat tentara hitam/ BSF ini dapat menghasilkan prepupa dan pupa yang bisa dimanfaatkan untuk pakan ikan, ternak bahkan burubg kicauan. Selain itu cara pengolahan sampah ini dapat menghasilkan sisa penguraian yang bisa dijadikan sebagai pupuk organic/kompos. Pasukan pengurai  hitam ini mampu mengurai sampah dengan cepat. Setiap ekornya rata-rata menghasilkan 500 maggot dalam satu siklus hidupnya. Apabila ada 20 ekor, nantinya akan ada 10.000 maggot. Dalam satu hari, 10.000 maggot mampu mengurai 1 kilogram sampah dan limbah rumah tangga (sisa makanan) dan menyisakan 200 gram sampah terurai yang biasa disebut dengan bekas maggot (kasgot). Kasgot dapat langsung dimanfaatkan sebagai pupuk organic untuk tanaman pertanian. Sementara itu maggot yang baru saja menyelesaikan tugas mengurai sampah, dalam tiga hari akan bermetamorfosis menjadi prepupa (fase puasa). Prepupa memiliki kandungan protein hingga 45 persen, lemak 35 persen. Dengan kandungan protein tinggi, prepupa dapat dimanfaatkan sebagai pakan unggas dan ikan. Guna menjaga populasi dan siklus BSF ini, maka sebaiknya jangan memanen prepupa sebagai pakan secara keseluruhan. Kita harus  menyisakan 1-3 persen prepupa agar melanjutkan siklus hidupnya menjadi pupa dan lalat dewasa. Sehingga proses perkembangbiakannya bisa terus berlanjut dan bisa mengolah limbah yang sekaligus menjadi pakan bagi Maggot BSF ini.

Tak hanya mengurai sampah dan sumber protein bagi Ikan dan ternak, biokonversi sampah menggunakan lalat hitam itu juga mampu menyuburkan tanah. Perusahaan gula PT Gunung Madu Plantations membuktikannya. Di perusahaan gula itu, pasukan lalat hitam mengurai sisa endapan hasil pengolahan tebu (blotong) hingga 10 persen. Apabila maggot mengurai 10 kilogram blotong, maka dihasilkan 9 kg pupuk organik dari blotong. Dalam satu tahun, PT Gunung Madu Plantations mendapat 80.000 ton blotong dari sisa produksi gula. Mereka juga akan dapat 72.000 ton pupuk organik. Pupuk Organik hasil penguraian maggot BSF ini ternyata berdampak positif bagi perkebunan Tebu disana. Lapisan olah yang semula memiliki ketebalan 10 cm kini bertambah jadi 14 cm. Kadar nitrogen dalam tanah juga meningkat 37,6 persen dari semula 0,9 kini menjadi 1,2. Karenanya biokonversi sampah dengan pemanfaatan Maggot BSF ini diharapkan bisa segera di aplikasikan baik di permukiman warga maupun perusahaan perkebunan. Karena berdasarkan data PadaTahun 2011 saja sampah masyarakat Indonesia 80.000 ton per hari (Kompas, 15/11/2013). Jumlah itu meningkat tahun 2014, mencapai 200.000 ton per hari. Pada 2025, dengan prediksi jumlah penduduk 270 juta jiwa, diperkirakan akan ada 270.000 ton sampah per harinya. Asumsinya, per orang menghasilkan 0,5 kg-1,5 kg sampah per hari (Kompas, 7/3). Di tengah berbagai upaya memerangi sampah yang mulai menjadi momok bagi masyarakat maka pengembangan pasukan khusus lalat hitam ini  sudah selayaknya lah segera dikembangkan. Sehingga sesuatu yang menjadi momok bisa menjadi enak karena malah bisa menjadi pundi penghasilan alternative untuk pakan ikan dan ternak serta dapat menghasilkan pupuk organic yang bermanfaat untuk pertanian.
Biopond BSF Tempat Memanen Maggot Pupanya



Didaerah Temanggung Black Soldier Flies/BSF mulai dikembangkan  skala kecilnya daerah Wadas Kandangan. Maggot BSF ini dimanfaatkan untuk pakan ikan dan bebek oleh Mas Kis Dewantoro dengan memanfaatkan limbah  buah dan sayur mayur. Didaerah Pahingan Temanggung pun juga sudah mulai dikembangkan untuk pakan ikan.

Memulai Usaha Black Soldier Flies/BSF
Untuk memulai Usaha Budidaya Maggot BSF dimulai dengan tahapan persiapan lahan/kandang budidaya dengan minimal 2 kandang Penghasil Telur dari Insect Net dan Kandang Komposter. Proses budidayanya bisa dimulai dengan mendapatkan Induk BSF dari Alam dengan menggunakan sarang buatan. Berikutnya Telor BSF yang didapat dari Alam kemudian di masukkan ke kandang penghasil telur. Setelah telor berkembang menjadi larva, prepupa dan pupa bisa dipindahkan ke kandang komposter dengan cara pemeliharaan dan perawatan yang sangat mudah. Dikandang Komposter ini tinggal dikasih limbah/sampah yang akan diolah menjadi kompos. Secara Otomatis larva maggot BSF akan mengolah limbah dan setelah 3 mingguan Prepupa dan Pupa akan mencari tempat kering (biopond) yang kita buat agar bisa berkumpul ditempat kering untuk mempermudah panen. Cara memanen Maggot BSF pun sangat mudah tinggal memanen prepupa/pupa nya kemudian dikumpulkan diwadah. Tehnik pemanfaatannya untuk pakan ikan dan ternak sangat sederhana tinggal diberikan begitu saja Ke Ikan/Ternak yang kita pelihara.

Karenanya proses pemeliharaan Maggot BSF ini bsa dikembangkan dilahan sempit dengan modal sedikit.  Sehingga diharapkan limbah rumah tangga yang kurang bermanfaat dan cenderung tidak ramah lingkungan justru menjadi sumber penghasilan alternatif. Selain itu juga akan banya membantu para pembudidaya  ikan dan peternak unggas  tidak tergantung lagi pada pakan pabrikan karena Maggot BSF ini bisa menjadi alternative pakan.  Sehingga diharapkan para pelaku utama dan pelaku usaha perikanan dan peternakan  kesejahteraannya akan meningkat.  Bahkan Kasgor (Bekas maggot) nya pun bisa menjadi pupuk organic bagi dunia pertanian. Karenanya  pemanfaatan pupuk anorganik/kimia juga bisa dikurangi kalau tidak mungkin kita tiadakan. Sehingga ajakan Go Organik tidak hanya menjadi wacana akan tetapi teraplikasi didunia nyata. Semoga.




MENGENAL BUDIDAYA LELE SISTIM BIOFLOC


Oleh : Mahmud Efendi, S.Tr.Pi. (Penyuluh Perikanan Temanggung)


Kegiatan budidaya perikanan (akuakultur) di Indonesia semakin terus ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan pasar akan produk perikanan yang kian hari semakin meningkat. Karenanya penerapan sistem budidaya intensif yang  ramah lingkungan sangat diperlukan untuk meningkatkan produksi perikanan termasuk didalamnya ikan lele.  Sebagaimana diketahui permasalahan utama dalam akuakultur selama ini adalah pemanfaatan pakan dan obat-obatan yang relatif tinggi sehingga berpotensi menjadi salah satu penyebab pencemaran lingkungan. Tuntutan Best Aquaculture Practices (BAP) dalam sertifikasi produk akuakultur yang akan diekspor mensyaratkan usaha tersebut haruslah ramah lingkungan. Sehingga perkembangan teknologi akuakultur saat ini difokuskan pada pemecahan masalah tersebut. Salah satu tehnologi terbaru dalam meningkatkan produksi ikan termasuk ikan lele adalah Sistem Budidaya Lele dengan Biofloc. Teknologi Budidaya Lele Biofloc pada dasarnya  adalah pemanfaatan bakteri pembentuk floc (Flocs Forming Bacteria) untuk pengolahan limbah.
Widyawisata Ke Kolam Lele Biofloc KMP Purwomartani Sleman
Teknologi bioflok merupakan salah satu alternatif baru dalam mengalasi masalah kualitas air dalam akuakultur yang diadaptasi dari teknik pengolahan limbah domestik secara konvensional. Prinsip utama yang diterapkan dalam teknologi ini adalah manajemen kualitas air yang didasarkan pada kemampuan bakteri heterotrof untuk memanfaatkan N organik dan anorganik yang terdapat di dalam air.
Biofloc merupakan flok atau gumpalan-gumpalan kecil yang tersusun dari sekumpulan mikroorganisme hidup yang melayang-layang di air.  Teknologi biofloc adalah teknologi yang memanfaatkan aktivitas mikroorganisme yang membentuk flok. Aplikasi BFT (Bio Floc Technology) banyak diaplikasikan disistem pengolahan air limbah industri dan mulai diterapkan di sistem pengolahan air media akuakultur.     

Mengenal Istilah Biofloc
Biofloc berasal dari dua kata yaitu Bio “kehidupan” dan Floc “gumpalan”. Sehingga biofloc dapat diartikan sebagai bahan organik hidup yang menyatu menjadi gumpalan-gumpalan. Gumpalan tersebut terdiri dari berbagai mikroorganisme air termasuk bakteri, algae, fungi, protozoa, metazoa, rotifera, nematoda, gastrotricha dan organisme lain yang tersuspensi dengan detritus. Ada yang bilang bahwa biofloc adalah suatu bentuk ikatan oleh mikroorganisme pada saat tumbuh dimana aktivitas pengikatan ini tergantung pada jenis mikroorganismenya.

Lokasi Kolam Lele Biofloc


Bioflok atau Flok merupakan istilah bahasa slang dari istilah bahasa baku “Activated Sludge” (“Lumpur Aktif”) yang diadopsi dari proses pengolahan biologis air limbah (biological waste water treatment ). Investigasi pertama terhadap penerapan Biofloc/activated sludge adalah sejak tahun 1941 pada pengolahan air limbah di Amerika. Hal ini dilakukan untuk mensubtitusi penggunaan plankton pada tahap treatment biologi yang dinilai lamban dalam uptake nutrien dan oksidasi nitrogen (ammonia, nitrit ) serta ketidakstabilannya dalam proses pengolahannya. Penerapan BFT ( Bio Floc Technology ) mulai digunakan menggantikan sistem RAS ( Recirculating Aquaculture System ) yang menggunakan pengenceran air yang banyak untuk pengenceran plankton.
Sistem biofloc dapat meminimalkan ganti air karena dalam bioflok terdapat proses siklus “auto pemurnian air” (self purifier) yang akan merubah sisa pakan dan kotoran, gas beracun seperti ammonia dan nitrit menjadi senyawa yang tidak berbahaya. Dengan meminimalkan ganti air maka peluang masuknya bibit penyakit dari luar dapat diminimalkan. Sistem biofloc lebih stabil dibandingkan dengan system probiotik biasa dikarenakan biofloc merupakan bakteri yang tidak berdiri sendiri, melainkan berbentuk floc atau kumpulan beberapa bakteri pembentuk floc yang saling bersinergi. Sedangkan system probiotik biasa bakteri yang ada dikolam merupakan sel-sel bakteri yang berdiri sendiri secara terpisah di air, sehingga apabila ada gangguan lingkungan atau gangguan bakteri lain maka bakteri akan cepat kolaps. 

 Penggunaan Bakteri Pada Sistem Bioflok     
Tidak semua jenis bakteri dapat membentuk bioflocs dalam air, seperti dari genera Bacillus hanya dua spesies yang mampu membentuk bioflocs. Salah satu ciri khas bakteri pembentuk bioflocs adalah kemampuannya untuk mensintesa senyawa Poli hidroksi alkanoat ( PHA ), terutama yang spesifik seperti poli βhidroksi butirat. Senyawa ini diperlukan sebagai bahan polimer untuk pembentukan ikatan polimer antara substansi substansi pembentuk bioflocs.  Bioflocs terdiri atas partikel serat organik yang kaya akan selulosa, partikel anorganik berupa kristal garam kalsium karbonat hidrat, biopolymer (PHA), bakteri, protozoa, detritus (dead body cell), ragi, jamur dan zooplankton.
Bakteri yang mampu membentuk bioflocs diantaranya adalah :
-              Zooglea ramigera
-              Escherichia intermedia
-              Paracolobacterium aerogenoids
-              Bacillus subtilis
-              Bacillus cereus
-              Flavobacterium
-              Pseudomonas alcaligenes
-              Sphaerotillus natans
-              Tetrad dan Tricoda         
Pemantauan Perkembangan Lele Biofloc

Indikator Keberhasilan Pembentukan Biofloc
Biofloc terbentuk, jika secara visual di dapat warna air kolam coklat muda (krem) berupa gumpalan yang bergerak bersama arus air. pH air cenderung di kisaran 7 (7,2-7,8) dengan kenaikan pH pagi dan sore yang kecil rentangnya kecil yaitu (0,02-0,2). Mulai terjadi penaikan dan penurunan yang dinamis nilai NH4+, ion NO2 dan ion NO3 sebagai indikasi berlangsungnya proses Nitrifikasi dan Denitrifikasi. Untuk 30 hari pertama budidaya/ Day Of Culture (DOC) merupakan masa krusial bagi tahap pembentukan Bioflocs. Penerapan “minimal water exchange”/Penggantian Air yang minimal, pada fase ini sangat menentukan. Lebih baik menghindari penggantian air dalam jumlah besar pada masa ini. Penambahan air hanya untuk penggantian susut karena penguapan dan perembesan saja. Atau menambah secara perlahan ketinggian air dari awal tebar 120 cm menjadi 150 cm secara bertahap  selama 30 hari.  

Hal-hal yang perlu Diperhatikan dalam Sistem Biofloc
  1. Bahan organik harus cukup (TOC > 100 mgC/L) dan selalu teraduk.
  2. Nitrogen disintesis menjadi mikrobial protein dan dapat dimakan langsung oleh udang dan ikan.
  3. Perlu disuplay C organik (molase, tepung terigu, tepung tapioka) secara kontinue atau sesuai dgn amonia dalam air • Oksigen harus cukup serta alkalinitas dan pH harus terus dijaga

Kelebihan Sistim Bioflok
1.      pH relatif stabil pH 7 - pH 7,8 
2.      pH nya cenderung rendah, sehingga kandungan amoniak (NH3) relatif kecil. 
3.      Tidak tergantung pada sinar matahari dan aktivitasnya akan menurun bila suhu rendah. 
4.      Tidak perlu ganti air (sedikit ganti air) sehingga biosecurity (keamanan) terjaga. 
5.      Limbah kolam (kotoran, algae, sisa pakan, amonia) didaur ulang dan dijadikan makanan alami berprotein tinggi 
6.      Lebih ramah lingkungan.

Kekurangan Sistim Bioflok
  1. Tidak bisa diterapkan pada kolam yang bocor/rembes karena tidak ada/sedikit pergantian air.
  2. Memerlukan peralatan/aerator cukup banyak sebagai suply oksigen.
  3. Aerasi harus hidup terus (24 jam/hari).
  4. Pengamatan harus lebih jeli dan sering muncul kasus Nitrit dan Amonia.
  5. Bila aerasi kurang, maka akan terjadi pengendapan bahan organik. Resiko munculnya H2S lebih tinggi karena pH airnya lebih rendah.
  6. Kurang cocok untuk tanah yang mudah teraduk (erosi). Jadi dasar harus benar-benar padat (dasar berbatu / sirtu, semen atau plastik HDPE).
  7. Bila terlalu pekat, maka dapat menyebabkan kematian bertahap karena krisis oksigen (BOD tinggi).
  8. Untuk itu volume Suspended Solid dari floc harus selalu diukur. Bila telah mencapai batas tertentu, floc harus dikurangi dengan cara konsumsi pakan diturunkan.
Pemantauan Perkembangan Ikan Lele Biofloc

Pengembangan Lele Biofloc di Kabupaten Temanggung.
Pengembangan Budidaya Lele model ini diharapkan bisa meningkatkan pengelolaan potensi perikanan ikan air tawar di Kabupaten Temanggung termasuk ikan lele. Diharapkan juga kesukaan masyarakat terhadap konsumsi ikan bisa meningkat karena adanya sistem budidaya bio floc menjadi alasan tepat untuk memulai alternatif pengembangan budidaya lele model ini. Karena pengembangan model ini akan mempercepat perkembangan budidaya ikan lele. Sehingga diharapkan konsumen/pembeli akan lebih mudah mendapatkan hasil produksi secara kontinyu dan sesuai kebutuhan. Kedepannya bisa tercipta menjadi satu kawasan budidaya perikanan yang terintegrasi dan diharapkan nantinya akan memicu pergerakan ekonomi lokal. Apalagi dengan pengenalan lele sistem bioflok ini akan  turut mendongkrak citra ikan lele  yang mulai disukai masyarakat karena menggunakan sistem yang ramah lingkungan dan lebih higienis.
Dalam rangka mendukung realisasi pengembangan lele bioflok di Kabupaten ini Bidang Perikanan Dinas Perikanan dan Peternakan melalui Dana Alokasi Khusus dan dari Anggaran Kementerian Kelautan dan Perikanan melakukan upaya pemberian dukungan usaha pengembangan Lele Biofloc ini sejak tahun 2017. Dukungan pengembangan usaha lele bioflok berupa Paket  Pembuatan Kolam Bundar Lele Biofloc, Penutup/green house, Benih Ikan Lele dan Pakannya serta Sarana dan Prasarana Pendukung Budidaya Lele Biofloc seperti Timbangan, probiotik dan Garam Krosok. Bahkan ada juga yang difasilitasi dengan dukungan peralatan pembuatan pakan mandiri.
Berikut daftar nama beberapa Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) dan Instansi yang telah menerima dan menerapkan Program Lele Biofloc disekitar Kabupaten Temanggung. Walaupun masih pada tahap belajar dan perlu pendampingan lebih lanjut dari Instansi Terkait dan Para Penyuluh Perikanan.
No
Institusi/Kelompok Pengelola
Alamat
Tahun Perolehan
1
Ponpes Darul Muttaqin
Bolong- Ngaditirto - Selopampang
2017
2
Ponpes Anwarush Sholihin
Prapak - Kranggan
2017
3
Mina Gemilang
Wonokerso – Tembarak
2018
4
Adi Mina
Pendowo – Kranggan
2018
5
Mina Ngudi Rejeki
Klepu - Pringsurat
2018
6
Mina Akur Sari
Muntung – Candiroto
2018
7
Mina Baabus Salam
Campursalam – Parakan
2018
8
Mina Sumber Rejeki
Caturanom – Parakan
2018

Penyuluhan Perikanan di Kolam Lele Biofloc DAK Disnakan Temanggung
Tahun 2018

Fasilitasi dan Pengembangan sistem budidaya lele biofloc ini diharapkan akan menjadi faktor pengungkit ekonomi masyarakat di Temanggung. Diharapkan juga sistem model ini bisa menyokong ketahanan pangan masyarakat melalui peningkatan konsumsi ikan. Karena saat ini tingkat konsumsi ikan masyarakat di Kabupaten Temanggung pada Tahun 2017 masih tergolong rendah yang berkisar 19,7 kg/kapita/tahun. Tingkat Konsumsi Ikan ini berada dibawah Propinsi yang pada tahun 2017 sudah mencapai 26,71 kg/kapita/tahun dan jauh ketinggalan dari Tingkat Konsumsi Ikan Nasional yang sudah berkisar pada 47 kg/kapita/tahun. Semoga dengan sistem ini diharapkan bisa semakin membuat masyarakat Temanggung senang dan hobby mengkonsumsi Ikan. Sehingga efek kedepannya bisa meningkatkan kesehatan dan kecerdasan generasi kita dengan banyak mengkonsumsi ikan. Semoga